Wanita Wajib Menutup Rambut – Fatwa Yusuf Qardhawi

  • Fatwa dan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi selalu ditunggu oleh banyak orang. Beliau adalah seorang ulama yang mendalam keilmuannya dan merupakan intelektual muslim terkemuka di dunia yang berasal dari Mesir. Nama lengkap beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan al-Qardhawi (sebagian menulisnya dengan Qaradhawi) adalah sebutan keluarga mengacu pada sebuah kota, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak diwarnai oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

    Berikut adalah pandangan Yusuf Qardhawi tentang rambut wanita:

    Telah menjadi suatu ijmak bagi kaum Muslimin di semua negara dan di setiap masa pada semua golongan fukaha, ulama, ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa rambut wanita itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.

    Adapun sanad dan dalil dari ijmak tersebut ialah ayat Alquran, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. An-Nuur: 31).

    yusuf qardhawi

    Dr. Yusuf al-Qaradhawi

    Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah SWT telah melarang bagi wanita Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut wanita itu termasuk hal-hal yang lahir.

    Bahkan, ulama-ulama yang berpandangan luas, menggolongkan hal itu sebagai perhiasan yang tidak tampak. Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, Allah SWT telah melarang kepada kaum wanita, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.

    Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh Ibnu Jubair, “Wajah.” Ditambahkan pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”

    Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”

    Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”
    Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadah, misalnya shalat, ibadah haji dan sebagainya.”

    Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar RA bertemu dengan Rasulullah SAW, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis.

    Lalu Rasulullah SAW memalingkan muka seraya bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya jika seorang wanita sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini…” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

    Dengan demikian, sabda Rasulullah SAW itu menunjukkan bahwa rambut wanita tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

    Allah SWTtelah memerintahkan bagi kaum wanita Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala”, sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadis yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadis manapun.

    Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup kepala dengan khamirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah SWT memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”

    Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah RA berkata, “Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah.”

    Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka. Ketika Aisyah didatangi oleh Hafshah dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

    Dengan demikian jelaslah bahwa menutup rambut bagi wanita hukumnya wajib. Di sini, tidak dibahas mengenai hukum memakai jilbab. Namun, dapat disimpulkan bahwa berjilbab sebagai upaya menutup rambut adalah wajib hukumnya. Meski demikian, menutup rambut tidak harus dengan jilbab, melainkan bisa dengan kain biasa. Yang penting bisa menutup seluruh rambut dari pandangan umum.

    Pin It

    Incoming search terms:

    yusuf qardhawi,hukum memperlihatkan rambut,fatwa yusuf qardhawi tentang umroh,hukum wanita memperlihatkan rambut,hukum wanita memperlihatkan rambutnya,foto yusup qordowi,knapa memperlihatkan rambut bagi perempuan haram di islam,hukuman orang yang memperlihatkan rambutnya,Hukuman buat wanita yg memperlihatkan rambutnya,HUKUM WANITA YANG MENAMPAKKAN RABUT,hukum wanita menampakkan rambut,hukum wanita menampakkan rambt,qardhawi,qardhawi tentang tunang dan rambut,yusuf qardawi,UST YUSUF QORDOWI,wanita ahli ibadah tampak pkai jilbab,wanita memperlihatkan rambut di fb,Wanita menampakkan rambut di fb,wanita yang memperlihatkan rambutnya,Wanita yang menutup rambuynya dgn jilbab,Yusuf Al-Qaradhawi jilbab,hukum wanita memamerkan rambuy,dalil tentang memperlihatkan rambut perempuan,fatwa manasik haji wanita,fatwa yusuf qardhawi alasan darurat,hadis tentang memperlihatkan rambut,hukum bagi wanita yang memamerkan rambut,hukum islam berjilbab dan memperlihatkan rambut,hukum memamerkan foto ibadah haji,Hukum memamerkan rambut,Hukum memperlihatkan rambut di fb,hukum memperlihatkan rambut saat memakai kerudung

Leave a Reply!

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *